Washington, AS - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengguncang kebijakan perdagangan global dengan mengumumkan tarif dasar dan bea masuk baru untuk sejumlah mitra dagang utama. Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Rabu (2/4/2025) petang waktu Washington atau Kamis (3/4/2025) pagi waktu Jakarta, Trump menyebut momen ini sebagai "Hari Pembebasan", menegaskan komitmennya terhadap prinsip America First.
Indonesia Kena Tarif 32 Persen
Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak kebijakan ini, dikenai tarif timbal balik sebesar 32 persen. Angka ini hanya terpaut 2 persen dari tarif yang dikenakan terhadap China, yang mencapai 34 persen. Dua negara ASEAN lainnya, Thailand dan Vietnam, bahkan mendapat tekanan lebih besar dengan tarif masing-masing 36 persen dan 46 persen.
"Dalam banyak kasus, terutama dalam perdagangan, kawan lebih buruk daripada lawan," ujar Trump. "Kita mensubsidi banyak negara dan membuat mereka berbisnis serta maju. Mengapa kita melakukan ini? Kita akhirnya mengutamakan Amerika."
Trump menegaskan bahwa defisit perdagangan bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi telah menjadi keadaan darurat nasional. Sambil mengangkat papan berisi daftar negara yang terkena tarif baru, ia menyebut kebijakan ini sebagai "deklarasi kemerdekaan ekonomi" bagi AS.
Dampak bagi Indonesia
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, Amerika Serikat merupakan penyumbang terbesar surplus perdagangan nonmigas Indonesia pada 2024. Dari total surplus perdagangan nonmigas sebesar 31,04 miliar dolar AS, AS berkontribusi sebesar 16,08 miliar dolar AS. Produk ekspor utama Indonesia ke AS meliputi garmen, peralatan listrik, alas kaki, dan minyak nabati.
Pengenaan tarif tinggi ini dikhawatirkan akan berdampak pada ekspor Indonesia, mengingat AS adalah salah satu tujuan utama produk-produk unggulan tanah air. Beberapa pelaku industri sudah mulai bersiap menghadapi kemungkinan penurunan permintaan akibat kebijakan ini.
Dunia Siap Melawan
Tak hanya Indonesia, kebijakan tarif baru Trump juga memicu reaksi keras dari negara lain. Uni Eropa dikenai tarif 20 persen dan telah menyatakan siap melakukan langkah balasan jika tarif tetap diberlakukan. Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyatakan negaranya akan "berjuang demi ekonomi Kanada".
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengaku telah melakukan pembicaraan produktif dengan Trump terkait kebijakan ini, namun belum ada kesepakatan yang dicapai.
Ekonom Deutsche Bank, Matthew Luzzetti, memperingatkan bahwa kebijakan ini bisa memperburuk ketidakpastian global dan mengurangi pertumbuhan ekonomi hingga 1 persen dalam beberapa kuartal ke depan. "Jika ketidakpastian ini berkepanjangan, dampaknya akan berlipat ganda," ujarnya.
Dengan dunia kini berada dalam ketegangan perdagangan baru, langkah berikutnya dari negara-negara terdampak, termasuk Indonesia, akan sangat menentukan bagaimana arah ekonomi global ke depan.